Harga Minyak Tetap Memuncak di Level Tertinggi dari Tahun 2014

Harga minyak mentah masih bertahan di level paling tingginya di perdagangan sampai hari Kamis (19/4) kemarin waktu Amerika Serikat. Sementara itu untuk harga minyak mentah berjangka Brent sendiri naik sebesar US $0,3 sehingga menjadi US $73,78 per barelnya.

Masih Tetap Tinggi

Di sepanjang sesi perdagangan, harga acuan global itu sempat juga menyentuh level US $74,75 per barel. Harga ini pasalnya yang paling tinggi sejak 27 November 2014 yang mana tanggal itu tanggal Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memutuskan untuk memompa minyak sebanyak-banyaknya guna mempertahankan pangsa pasar.

Dilansir dari CNN Indonesia, hari Jumat (20/4) ini, panel gabungan OPEC dan juga non-OPEC menilai bahwa kelebihan pasokan minyak global sudah dieliminasi karena adanya kesepakatan pemangkasan pasokan semenjak bulan Januari tahun 2017.

“Secara keseluruhan, persamaan penawaran dan juga permintaan cukup seimbang,” kata Anthony Scott,  Direktur Pelaksana BTU Analytics saat ditemui di Denver.

Ia melanjutkan, pada titik ini pasar bakal bergantung pada ekspektasi di mana pelaku akan mencoba juga melihat sinyal yang berikutnya, baik itu yang bersifat mendorong harga bullish maupun juga yang sifatnya menekan harga (bearish).

Pedagang sendiri mengatakan spekulator-spekulator masih saja terus menempalkan taruhannya agen poker terpercaya pada sisi atas, mengharap potensi gangguan pada pasokan dan berlanjutnya penurunan stok yang diakibatkan oleh kuatnya permintaan.

Dan lebih dari 830 ribu kontrak awal bulan yang mana berpindah tangan pada New York Mercantile Exchange CME Group di hari Kamis (19/4) kemarin, lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata hariannya yang kira-kira hanya 615 ribu.

Hal yang dilakukan Para Investor

Dengan ini maka investor-investor terus mencermati dan memantau pergerakan harga minyak mentah AS ke level US $70 per barelnya. Akan tetapi kemungkinan pergerakan bakal menghadapi hambatan terutama seiring dengan laju dan juga besarnya reli baru-baru ini yang mana memberikan tekanan aksi jual.

Phil Flynn selaku Analis dari Pric Futures Group di Chicago menyatakan, “Saya rasa pasar bisa langsung melihat harga US $70 per barel dengan cepat. Akan tetapi saya ingin memperingatkan bahwasanya mungkin saja kita bakal melihat pasar sedikit turun dalam waktu beberapa pekan ini.”

Masih dikutip dari CNN Indonesia yang menyebutkan bahwa Pertemuan Gabungan Komite Teknis OPEC yang mana berlangsung minggu ini menemukan persediaan minyak mentah pada negara maju di bulan Maret 2018 kemarin hanya kira-kira 12 juta barel di atas rata-rata 5 tahunan.

Namun demikian, Mohammed bin Hamad Al Rumhi, menteri perminyakan Oman, mengatakan bahwa ia masih berpendapat kelebihan pasokan masih terjadi di pasar.

Dilaporkan juga pada hari Rabu lalu Arab Saudi bakal sangat senang apabila harga minyak mentah dunia dapat menyentuh US $80  atau bahkan US $100 per barelnya. Hal ini artinya negara eksportir utama minyak dunia ini tak bakal berupaya mengubah kesepakatan pemangkasan pasokan.

Selain itu juga, harga minyak pun sebenarnya ditopang oleh kemungkinan Amerika Serikat mengenakan kembali sanksi terhadap Iran yang mana merupakan produsen minyak paling besar di OPEC. Apabila AS melalukan hal tersebut maka tidak heran jika memang hal itu bisa mengurangi pasokan minyak dunia lebih jauh lagi.

Sampai hari Kamis (19/4) kemarin, harga minyak melejit bahkan hampir sampai 3% pada perdagangan hari Rabu (18/4) waktu AS. Tentunya pernyataan Arab Saudi di atas berpengaruh langsung pada negara adidaya tersebut.

Categories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *